Rabu, 19 Februari 2025

Pemahaman Dasar Bab 1 Kitab Taqrib: Thaharah (Bersuci) dalam Fiqih Madzhab Syafi'i


Pendahuluan

Kitab Taqrib atau Matn al-Ghayah wa al-Taqrib merupakan salah satu kitab fiqih dasar yang sangat populer dalam kalangan santri, terutama di pesantren-pesantren yang mengikuti mazhab Imam Syafi’i. Disusun oleh Abu Shuja’ al-Asfahani, kitab ini membahas hukum-hukum fikih secara ringkas namun sistematis. Bab pertama dalam kitab ini adalah Bab Thaharah (bersuci), yang menjadi pondasi dalam pelaksanaan ibadah seorang Muslim.


Definisi Thaharah

Dalam pengertian bahasa, thaharah berarti kebersihan atau kesucian. Dalam istilah fikih, thaharah adalah mengangkat hadats dan menghilangkan najis untuk memungkinkan pelaksanaan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya.


Macam-Macam Air

Abu Shuja’ dalam Bab 1 menjelaskan bahwa air yang dapat digunakan untuk bersuci terbagi menjadi empat macam:

  1. Air Mutlak
    Air yang suci dan mensucikan, seperti air hujan, laut, sumur, sungai, embun, dan salju.

  2. Air Musyammas (air yang dipanaskan matahari)
    Air ini suci dan mensucikan, tetapi makruh digunakan di daerah Hijaz jika disimpan dalam bejana logam bukan emas atau perak.

  3. Air Musta’mal
    Air suci tapi tidak bisa digunakan untuk bersuci. Contoh: air bekas wudhu.

  4. Air Muqayyad (air yang terikat sifat)
    Air yang bercampur dengan sesuatu yang mengubah sifatnya (warna, rasa, atau bau), seperti air teh atau air bunga.


Jenis-Jenis Najis dan Cara Mensucikannya

Abu Shuja’ menjelaskan bahwa najis dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:

  • Najis ‘Ainiyah (yang terlihat): najis hewan, darah, kotoran.

  • Najis Hukmiyah (tidak terlihat): misalnya bekas air kencing yang telah kering.

Mensucikannya dengan menghilangkan zat najis, bau, rasa, dan warnanya, dengan air mutlak.


Wudhu

Penulis kitab Taqrib juga membahas rukun dan sunnah wudhu. Rukun wudhu ada enam, yaitu:

  1. Niat

  2. Membasuh wajah

  3. Membasuh kedua tangan sampai siku

  4. Mengusap sebagian kepala

  5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

  6. Tertib

Sementara sunnah-sunnah wudhu antara lain membaca basmalah, bersiwak, mendahulukan yang kanan, dan berdoa setelah wudhu.


Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu

Beberapa hal yang membatalkan wudhu antara lain:

  • Sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur)

  • Hilang akal (tidur, pingsan)

  • Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa penghalang

  • Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan


Tayammum dan Mandi Besar

Tayammum diperbolehkan jika tidak menemukan air atau karena sakit. Syarat sah tayammum adalah menggunakan debu suci, dan dilakukan dengan niat dan dua kali tepukan ke tanah.

Mandi wajib dilakukan dalam keadaan:

  • Junub (setelah jimak atau keluar mani)

  • Haid dan nifas

  • Masuk Islam

  • Meninggal dunia (memandikan jenazah)


Kesimpulan

Bab pertama dari Kitab Taqrib menunjukkan betapa pentingnya thaharah dalam Islam sebagai pembuka segala bentuk ibadah. Pengetahuan tentang macam-macam air, jenis najis, wudhu, tayammum, dan mandi besar sangat krusial dalam kehidupan seorang Muslim. Kitab ini menjadi rujukan awal yang wajib dikuasai dalam mempelajari fiqih, khususnya fiqih ibadah menurut mazhab Imam Syafi’i.


Daftar Pustaka

  1. Abu Syuja’ al-Asfahani. Matn al-Ghayah wa al-Taqrib.

  2. Nawawi al-Bantani. Kasyifah al-Saja, Syarh Taqrib.

  3. Nawawi, Imam. Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab.

  4. As-Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha. I'anah at-Thalibin.

  5. Al-Khatib Asy-Syarbini. Mughni al-Muhtaj.

  6. Wahbah Zuhaili. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr.

  7. Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari. Fath al-Mu’in.



Oleh : K.H. Muh. Izuddin Zakki (Pengasuh Ponpes Al-Falah Kedunglurah, Trenggalek
Editor : Murdiyanto (Ketua BSA Trenggalek)
Share:

Rabu, 05 Februari 2025

Memahami Bab Pertama Kitab Jurumiyah — Pengantar Ilmu Nahwu


Pendahuluan

Kitab Al-Jurumiyah merupakan salah satu kitab klasik yang sangat populer dalam pengajaran ilmu Nahwu (tata bahasa Arab), khususnya di kalangan pesantren tradisional. Disusun oleh Syaikh Ash-Shanhaji (Ibnu Ajurrum), kitab ini menjadi pegangan dasar bagi para pemula yang ingin memahami struktur gramatika bahasa Arab. Bab pertama dari kitab ini membahas tentang pengertian kalam (الكلام), yang menjadi fondasi penting dalam ilmu nahwu.


Bab 1: Pengertian Kalam (الكلام)

Dalam pembukaannya, kitab Al-Jurumiyah menyebutkan:

"الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع"

Terjemahannya:
Kalam adalah lafadz yang tersusun, memberikan faidah (makna sempurna), dan ditetapkan secara konvensional.

Penjelasan Unsur-unsur Kalam

  1. اللفظ (al-lafzh):
    Yaitu suara yang keluar dari mulut dan terdiri dari huruf-huruf yang dapat didengar. Misalnya, kata "زيد" (Zaid), berbeda dengan tulisan atau isyarat.

  2. المركب (al-murakkab):
    Kalimat harus tersusun dari dua atau lebih kata. Misalnya: "جاء زيد" (Zaid telah datang), terdiri dari fi’il dan fa’il.

  3. المفيد (al-mufid):
    Kalimat tersebut harus memberikan makna yang utuh, yang dapat dimengerti tanpa membutuhkan tambahan penjelas.

  4. بالوضع (bi al-wadh‘):
    Ditentukan secara konvensional atau digunakan sesuai kebiasaan bahasa Arab. Ini membedakan antara ucapan bermakna dan suara yang tak dimengerti seperti teriakan.


Klasifikasi Kalam dalam Ilmu Nahwu

Setelah memahami pengertian kalam, para ulama nahwu membagi kalam ke dalam tiga bagian utama:

  1. Isim (اسم):
    Kata benda atau sesuatu yang menunjukkan nama orang, tempat, atau benda. Contoh: "رجل" (seorang laki-laki), "كتاب" (buku).

  2. Fi’il (فعل):
    Kata kerja yang menunjukkan peristiwa atau perbuatan dalam waktu tertentu. Contoh: "ذهب" (telah pergi), "يكتب" (sedang menulis).

  3. Harf (حرف):
    Kata sambung atau huruf yang tidak memiliki makna kecuali jika bersama kata lain. Contoh: "في" (di), "من" (dari).


Signifikansi Bab Kalam dalam Pembelajaran Nahwu

Pemahaman terhadap definisi kalam menjadi dasar untuk membedakan antara kalimat sah dalam bahasa Arab dengan rangkaian kata yang belum sempurna. Selain itu, penguasaan struktur kalam akan menjadi pintu masuk memahami susunan ayat Al-Qur’an dan Hadis secara gramatikal.


Kesimpulan

Bab pertama dari Kitab Al-Jurumiyah bukan hanya sekadar pembahasan definisi, tetapi fondasi bagi semua pembelajaran ilmu nahwu berikutnya. Dengan memahami apa itu kalam, siswa akan dapat mengidentifikasi susunan kalimat, mengenali jenis kata, dan menilai keabsahan struktur bahasa dalam konteks Arab.


Daftar Pustaka

  1. Ash-Shanhaji, Muhammad bin Da’ud. Al-Muqaddimah Al-Jurumiyyah fi ‘Ilm an-Nahw. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2002.

  2. Az-Zajjaji, Abu al-Qasim. Al-Jumal fi An-Nahw. Dar al-Ma’rifah, 1981.

  3. Al-Mubarakfuri, Shamsuddin. Tuhfatul Athfal wa al-Ghilman. Maktabah Salafiyyah, 1980.

  4. Al-Malibari, Zainuddin. Hasyiyah al-Malibari 'ala al-Jurumiyyah, Maktabah Syamilah.

  5. Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Syarh al-Jurumiyyah, Dar al-Imam Ahmad, 2010.

  6. Muhammad Salih, Ilmu Nahwu Dasar, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2009.



Oleh : K.H. Muh. Izuddin Zakki (Pengasuh Ponpes Al-Falah Kedunglurah, Trenggalek
Editor : Murdiyanto (Ketua BSA Trenggalek)

.

Share:

Rabu, 29 Januari 2025

Menjadi Pencari Ilmu yang Berkah: Telaah Bab 1 Kitab Ta’limul Muta’allim

Pendahuluan

Kitab Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji merupakan salah satu karya klasik (kitab turats) yang sangat penting dalam dunia pendidikan Islam. Kitab ini membahas adab dan etika dalam menuntut ilmu agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat, tidak hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat. Bab pertama kitab ini, "Fi Bayan Fadhlil Ilmi wa Ta’allumihi" (Penjelasan tentang Keutamaan Ilmu dan Belajar), menjadi dasar penting untuk membentuk karakter pelajar yang berakhlak dan visioner.


Isi Bab 1: Keutamaan Ilmu dan Belajar

Syaikh Az-Zarnuji membuka kitabnya dengan menjelaskan mengapa ilmu itu penting dan mengapa seseorang harus belajar dengan serius. Berikut adalah beberapa poin utama yang ditekankan:

  1. Ilmu sebagai Sarana Mencapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
    Az-Zarnuji menekankan bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan sejati. Orang yang berilmu mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, serta bisa menuntun orang lain menuju kebaikan.

  2. Niat yang Benar dalam Menuntut Ilmu
    Penekanan pada niat yang ikhlas menjadi salah satu fondasi utama dalam menuntut ilmu. Ilmu harus dicari karena Allah SWT, bukan demi mencari pujian, jabatan, atau kekuasaan.

  3. Hadits dan Perkataan Ulama
    Bab ini juga disertai dengan kutipan hadits dan atsar (perkataan para ulama), seperti hadits Nabi Muhammad SAW:

    "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
    (HR. Muslim)

  4. Kebodohan Lebih Berbahaya daripada Kemiskinan
    Syaikh Az-Zarnuji mengutip pendapat Imam Syafi’i:

    “Tidak ada musibah yang lebih besar bagi umat ini selain orang bodoh yang berpura-pura alim.”


Nilai-Nilai Pendidikan dari Bab 1

  1. Tujuan Mulia dalam Belajar
    Pendidikan bukan hanya tentang penguasaan ilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang takut kepada Allah dan membawa manfaat bagi masyarakat.

  2. Etika dan Moralitas
    Menuntut ilmu harus disertai akhlak yang baik. Seorang pelajar harus rendah hati, tawadhu’, dan menjauhkan diri dari kesombongan.

  3. Peran Guru dan Murid
    Bab ini menjadi dasar penting dalam membangun hubungan antara guru dan murid yang penuh penghormatan dan kasih sayang.


Relevansi dalam Dunia Modern

Meskipun ditulis berabad-abad lalu, pesan Bab 1 Ta’limul Muta’allim tetap relevan di era modern. Dalam dunia yang semakin materialistik, kitab ini mengingatkan kita bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang mengantarkan pada kedekatan kepada Allah, serta memperbaiki diri dan masyarakat. Di tengah krisis moral dan disorientasi pendidikan, ajaran Az-Zarnuji sangat relevan untuk membentuk karakter pelajar yang berintegritas.


Penutup

Bab pertama dari Ta’limul Muta’allim memberikan fondasi yang kuat bagi setiap pencari ilmu untuk memulai perjalanannya dengan benar. Keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada seberapa banyak yang dipelajari, melainkan pada niat, metode, dan adab yang menyertainya.


Daftar Pustaka

  1. Az-Zarnuji, Burhanuddin. Ta'limul Muta'allim Thariq at-Ta'allum. Beirut: Dar al-Fikr, 2005.

  2. Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.

  3. Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.

  4. Suyuti, Jalaluddin. Al-Jami’ ash-Shaghir.

  5. Syihabuddin, Lathiful. Mutiara Adab Menuntut Ilmu: Kajian Kitab Ta’limul Muta’allim. Jakarta: Khatulistiwa Press, 2020.

  6. Departemen Agama RI. Terjemah Ta’limul Muta’allim. Jakarta: Ditjen Pendidikan Islam, 2004.



Oleh : K.H. Muh. Izuddin Zakki (Pengasuh Ponpes Al-Falah Kedunglurah, Trenggalek)
Editor : Murdiyanto (Ketua BSA Trenggalek)
Share:

Rabu, 15 Januari 2025

Profil K.H. Zainal Fanani Hasyim | Pendiri Ponpes Al-Falah Kedunglurah, Trenggalek


Kiai Fanani
, demikian beliau akrab disapa, merupakan sosok ulama kharismatik yang menjadi rujukan utama bagi berbagai kalangan masyarakat di Trenggalek. Kealiman dan kebijaksanaan yang beliau miliki, ditambah dengan wibawa dan kharisma yang kuat, menjadikan beliau tempat bertanya dan berkonsultasi, tidak hanya oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh kalangan birokrat, tokoh politik, dan pejabat daerah.

Nama Kiai Fanani juga sangat dikenal karena kepiawaiannya dalam berdakwah. Dengan suara bariton yang khas, beliau kerap diundang untuk mengisi ceramah-ceramah dan pengajian umum, terutama pada momen-momen hari besar Islam. Gaya ceramah beliau yang mendalam namun tetap komunikatif menjadikan banyak orang merasa dekat secara spiritual dan emosional.

Nasab dan Latar Belakang Pendidikan

Kiai Fanani merupakan putra dari Hasyim bin Abdullah bin Abdul Qahar bin Nuryo Kromo bin Wusul. Sejak muda, beliau menempuh pendidikan agama dengan penuh kesungguhan. Setelah mengaji di Pondok Pesantren Ngadirejo, beliau melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri — sebuah pesantren besar yang terkenal sebagai pusat ilmu keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah di Jawa Timur.

Untuk pendidikan formal, beliau menyelesaikan pendidikan di PGA (Pendidikan Guru Agama). Kombinasi antara pendidikan pesantren dan pendidikan formal ini membentuk kapasitas keilmuan Kiai Fanani yang luas dan mendalam.

Peran dalam Dunia Pendidikan dan Organisasi

Pada tahun 1986, Kiai Fanani mendirikan Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam dan pembinaan moral generasi muda. Melalui sistem ngaji dampar (ngaji tradisional di hadapan kiai), beliau menyampaikan berbagai disiplin ilmu agama dengan penuh ketekunan.

Selain mengasuh pesantren, Kiai Fanani juga berperan sebagai dosen di UNSURI (Universitas Sunan Giri, kini STIT Sunan Giri Trenggalek) sejak awal pendiriannya. Peran beliau dalam dunia akademik ini menunjukkan kepeduliannya terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam secara formal.

Dalam organisasi Nahdlatul Ulama, Kiai Fanani pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PCNU Trenggalek selama dua periode, menunjukkan kepercayaan dan penghormatan warga NU terhadap kapasitas kepemimpinan beliau.

Pada masa awal reformasi, saat pembentukan Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Trenggalek, beliau turut terlibat aktif sebagai anggota Tim 5, sebuah tim inisiasi penting dalam sejarah perpolitikan warga nahdliyyin di Trenggalek.

Akhir Hayat dan Warisan Keilmuan

Kiai Zainal Fanani Hasyim wafat pada Januari 2007, meninggalkan jejak perjuangan yang begitu luas dalam bidang pendidikan, dakwah, dan organisasi keislaman. Pesantren yang beliau dirikan, Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, kini terus berkembang dan menjadi bagian dari jaringan penting pesantren Al-Falah Ploso di wilayah Trenggalek.

Warisan keilmuan, keteladanan akhlak, serta perjuangan beliau dalam menanamkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah terus hidup dan diteruskan oleh para putra-putri beliau serta para santri yang telah beliau bina.
________
.
Share:

Rabu, 01 Januari 2025

Profil Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Trenggalek


Sejarah dan Pendirian

Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah didirikan pada tahun 1986 oleh almaghfurlah Romo K.H. Zainal Fanani Hasyim, seorang ulama kharismatik yang berdedikasi tinggi terhadap dakwah Islam dan pendidikan santri. Setelah wafatnya beliau, estafet kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putra-putra beliau, yaitu:
  1. K.H. Muh. Izuddin Zakki, S.Th.I., M.Sy (sebagai Pengasuh Utama)
  2. K.H. Miftahudin (fokus pada Majelis Taklim dan pembinaan keilmuan masyarakat)
  3. Agus Muh. Fuad Zen, M.Pd. (memimpin unit pendidikan MTs Qur’an Nurul Falah)

Lokasi Pesantren

Pesantren ini terletak di Jalan Raya Kedunglurah, RT. 15 RW. 05, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menjadikannya mudah dijangkau oleh masyarakat sekitar dan luar daerah.

Baca Juga : Profil K.H. Zainal Fanani Hasyim (Pendiri Ponpes Al-Falah Kedunglurah)

Unit Pendidikan di Bawah Yayasan Ponpes Al-Falah

Pondok Pesantren Al-Falah menaungi beberapa lembaga pendidikan formal dan non-formal, antara lain:
  1. Madrasah Diniyah Riyadlotul Uqul (MISRIU)
  2. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Qur’an Nurul Falah
  3. Madrasah Aliyah (MA) Nurul Falah
  4. Pondok Pesantren Al-Falah sebagai induk seluruh kegiatan pendidikan dan pembinaan keagamaan

Kepemimpinan dan Pembinaan

  1. MTs Qur’an Nurul Falah dipimpin oleh: Agus Muh. Fuad Zen, M.Pd.
  2. MA Nurul Falah dipimpin oleh: K.H. Muh. Izuddin Zakki, S.Th.I., M.Sy., yang juga bertindak sebagai Pengasuh Pondok Pesantren
  3. K.H. Miftahudin berperan dalam pembinaan masyarakat melalui Majelis Taklim

Program Unggulan Pendidikan

Program Unggulan MA & MTs Qur’an Nurul Falah

  1. Tahfidzul Qur'an
  2. Pengajian Kitab Kuning
  3. Muhadloroh (latihan pidato dan public speaking)
  4. Tahlil dan Dzikrul Ghofilin
  5. Conversation Bahasa Arab dan Inggris

Program Unggulan Khusus MA Nurul Falah

  1. Keterampilan Multimedia dan Desain Komunikasi Visual (DKV)
  2. Video Shooting
  3. Fotografi
  4. Editing Video dan Foto

Kegiatan Harian Santri Mukim (MA & MTs)

Santri mukim di Pondok Pesantren Al-Falah menjalani kegiatan terstruktur dan disiplin, yang meliputi:
  1. Jamaah Shalat Shubuh
  2. Fasholatan
  3. Ngaji Qur'an, Kitab Kuning, dan Nahwu
  4. Sekolah Formal (MTs & MA)
  5. Program Tahfidzul Qur’an (bagian dari kurikulum resmi)
  6. Sholat Dhuha saat istirahat sekolah
  7. Jamaah Shalat Dzuhur
  8. Madrasah Diniyah
  9. Jamaah Shalat Ashar
  10. Ngaji Kitab Fathul Qorib
  11. Membaca Surah Al-Waqiah bersama
  12. Jamaah Shalat Maghrib
  13. Ngaji Kitab Tafsir Jalalain dan Al-Qur’an
  14. Jamaah Shalat Isya'
  15. Ngaji Kitab Kuning malam hari
  16. Syawir (belajar kelompok/saling tukar ilmu antar santri)


Penutup

Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah merupakan lembaga pendidikan Islam yang mengintegrasikan pendidikan formal dan non-formal, dengan tetap menekankan nilai-nilai keilmuan salafiyah, akhlakul karimah, serta penguatan keterampilan modern. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan dan pembinaan akhlak bagi generasi muda Islam di wilayah Trenggalek dan sekitarnya.

.
Share:

"Kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makan dan minum karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja dalam sehari, sedang ilmu, dibutuhkan dalam setiap embusan napas"

"Tahapan pertama dalam mencari ilmu adalah mendengarkan, kemudian diam dan menyimak dengan penuh perhatian, lalu menjaganya, lalu mengamalkannya dan kemudian menyebarkannya." - Sufyan bin Uyainah

Bagi Bapak/Ibu Dewan Asatidz, Asatidzah, Wali Santri, Alumni atau Santri yang ingin menulis Artikel, Opini, Berita, Puisi, Khutbah (atau karya lainnya) dan menghendaki di PUBLIKASIKAN di Website YPP Al-FALAH ini, bisa dikirimkan melalui Email : yppalfalahkedunglurah@gmail.com. Terima Kasih

Informasi PPDB Tahun 2025

Informasi Penerimaan Calon Peserta Didik Baru YPP Al-Falah Tahun 2025

INFORMASI Penerimaan Calon Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yayasan Pondok Pesantren AL-FALAH Kedunglurah ...

Terjemahkan

Kajian Kitab Kuning

Maqalah Imam Syafi'i

"Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena sulitnya ia belajar, dan ia tidak menyukai pelajaran."