Setiap santri adalah anak ruhani dari para masyayikh, dan setiap alumni adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar pesantren. Begitulah yang tergambar dalam sosok Gus Zakki—seorang santri sekaligus alumni yang kini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kedunglurah, Trenggalek—ketika menghadiri Haul Masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri pada 3-5 Juli 2025.
Haul ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi momentum spiritual yang dalam untuk mempererat tali batin antara santri, alumni, dan guru-guru besar yang telah wafat. Dengan penuh hurmat (penghormatan), khidmah (pengabdian), dan tabarukan (mengharap berkah), Gus Zakki hadir bersama ribuan jamaah lain untuk mengenang, mendoakan, dan meneladani perjuangan para masyayikh yang telah membangun peradaban pesantren dengan ilmu dan keteladanan.
Sebagai alumni yang kini mengasuh pesantren sendiri, kehadiran Gus Zakki mengandung pesan moral yang kuat: "Santri tetap santri, di mana pun dan kapan pun." Meski telah menjadi tokoh masyarakat dan pemimpin pesantren, beliau tidak melupakan asal-muasal spiritualnya. Dengan penuh ketawadhuan, Gus Zakki bersilaturahim dengan para dzurriyah (keturunan) masyayikh dan sesama alumni, memperkuat rasa cinta dan loyalitas kepada pusat keilmuan dan spiritual tersebut.
Haul Masyayikh Ploso Kediri adalah manifestasi dari ajaran hubbul ulama (cinta kepada ulama) dan itba'us shalihin (mengikuti orang-orang saleh). Nilai-nilai inilah yang selalu ditanamkan di berbagai pesantren, termasuk di Pondok Al Falah Kedunglurah yang kini diasuh Gus Zakki. Tidak heran jika setiap tahun, haul ini dihadiri oleh ribuan orang yang datang bukan hanya dari Jawa Timur, tetapi dari berbagai pelosok Indonesia.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, haul seperti ini menjadi oase ruhani yang meneguhkan identitas pesantren sebagai benteng moral dan pusat peradaban Islam Nusantara. Kehadiran para alumni, terutama yang telah berkiprah di masyarakat, menjadi teladan nyata bagi santri-santri muda tentang pentingnya menjaga adab, khidmah, dan kesetiaan kepada guru.
Gus Zakki sendiri dalam berbagai kesempatan sering menekankan bahwa "Santri yang tidak mengenang dan mendoakan gurunya ibarat pohon yang tercerabut dari akarnya." Maka, melalui haul ini, beliau tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga hadir dengan jiwa yang sepenuhnya tunduk dan hormat kepada warisan para guru dan pendiri pesantren.
Haul Masyayikh Al Falah Ploso bukan hanya ajang mengenang masa lalu, tetapi juga menyalakan api perjuangan untuk masa depan. Hurmat, khidmah, dan tabarukan yang diperlihatkan Gus Zakki dan para alumni lainnya menjadi bukti bahwa santri tidak pernah benar-benar "lulus" dari pesantren, sebab pesantren adalah rumah yang abadi di dalam hati.
Oleh : Tim Media YPP ALFALAH.OR.ID